Takut Hilang Kenangan di Tanah Kelahiran

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

HEADLINE9.COM, MARTAPURA – Rencana PTPN 13 Kebun Danau Salak membuka akses untuk pertambangan membuat masyarakat sekitar sedih. Pasalnya, bakal banyak perubahan yang terjadi di depan mata, mulai lingkungan sampai sosial. Kendati semua yang ditambang adalah lahan konsesi PTPN, di sana ada dusun tempat tinggal penduduk.

“Lawa itu tempat kelahiran, tepatnya di Afdeling V. semua saudara belajar di sekolah dasar di Gunung Sari atau Afdeling VII,” kata Rudi, seorang pekerja swasta ditemui kemarin di lokasi perkebunan.

PTPN 13 Kebun Danau Salak Kok Menambang Batubara, Ini Hasil Penelusurannya…!

Bila batubara merambah Dusun Lawa, Desa Bawahan Selan, tentu menghilangkan situs lahirnya dan bekas tempat tinggal orang tunya. Bahkan, di sana masih ada nisan mini milik adiknya yang meninggal di usia balita. Dirinya rutin berziarah ke Lawa kendati telah lama pindah ke Gunung Balai, jaraknya sekitar 10 km dari lokasi kebun.

BACA JUGA :  Diintai Selama 3 Bulan, Balapan Liar Jalan Lingkar Selatan Berhasil Dibersihkan Sat Lantas Polres Banjar

“Takutnya kena imbas pertambangan, dan bagaimana nasib kuburan,” ungkapnya.

Rudi mengkritisi aktivitas tambang yang berada di lokasi kebun. Walaupun seluruh itu milik PTPN, tetap bersinggungan dengan Pemerintah Daerah. Salah satunya jalan masuk ke kebun milik Kabupaten. Jalan itu kini mulai rusak setelah ada mobilisasi alat berat.

“Jalan itu kan di dalam, jadi tidak terpantau. Kekuatan jalan Kabupaten paling 3.5 ton dan baru di aspal PUPR Banjar. kalau tidak keliru sekitar tahun 2017 lalu,” ungkapnya.

Sebutlah Ibu Diah, bukan nama sebenarnya mengetahui sejak lama akan ada aktivitas tambang di lahan kebun. ASN Kabupaten Banjar itu berharap imbasnya tidak terlalu besar bagi kelangsungan kehidupan di tempat. Perempuan yang setiap hari hilir mudik di Bawahan Selan menyesalkan bila tambang terealisasi.

BACA JUGA :  Akibat Mabuk Oplosan dan Ngelem, 20 Anak Jalanan Digundul dan Ikuti Kegiatan Rohani

“Tapi bagaimana lagi. Kan, lahan itu milik mereka. Kami hanya bisa sedih dan berharap jangan ada tambang di lahan kebun,” ujarnya.

Rudi dan Ibu Diah lebih menyukai lingkungan yang hijau. Tinggal di lingkungan yang ada kebun lebih sejuk dan hening, jauh dari keramaian. Setelah eksploitasi, tiap hari karyawan tambang keluar masuk lokasi melalui Bawahan Selan, beda karyawan kebun dengan tambang sangat mencolok.

“Karyawan batubara keluar lokasi sekitar jam 5 sore, pola kerjanya shift dan terlihat dari seragam dilapisi rompi warga oren,” ungkap keduanya.

Joko, Juru Bicara Manajemen Proyek Tambang PTPN 13 Kebun Danau Salak mengatakan, setelah aktivitas tambang secepatnya dilaksanakan reklamasi. Lahan yang telah digali tersebut dibenahi dan ditanami sawit. Setelah pohon karet ditebang, tanahnya dibongkar untuk tambang langsung di reklamasi, kemudian ganti komoditas yaitu sawit.

Baca Juga