headline9.com, MARTAPURA — Untuk mengetahui apakah nyamuk aedes aegypty kebal terhadap bahan aktif yang biasa digunakan Kabupaten Banjar pada pengasapan (fogging), Direktorat surveilans dan karantina kesehatan Kemenkes Republik Indonesia, laksanakan uji coba.
Uji coba tersebut dilaksanakan di Kabupaten Banjar, karena angka kasus da am berdarah dengue (DBD) cukup tinggi.
Berdasarkan data dari dinas kesehatan Kabupaten Banjar, jumlah kasus DBD 2022 lalu ada 231 kasus, dan tahun ini jumlah kasus DBD sudah mencapai 72 kasus.
Saat ini Kabupaten Banjar tercatat daerah ini sebagai salah satu kabupaten dengan kasus demam berdarah tertinggi di Kal-sel.
Direktorat surveilans dan karantina kesehatan Kemenkes RI bekerjasama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Banjarbaru, dinas Kesehatan Provinsi Kalsel dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, melaksanakan penelitian terhadap jentik dan nyamuk aedes aegypti yang ada di Kabupaten Banjar.
“Fogging dilakukan di pemukiman dengan alasan untuk membunuh nyamuk aedes aegypti, hal ini bukanlah solusi terbaik untuk memberantas mata rantai penyakit demam berdarah,” ujar Entomolog Kesehatan Dirjen P2P Kemenkes RI Dessy Paiman.
Sementara itu, Kadis Kesehatan Kabupaten Banjar Yasna Khairina menambahkan, fogging yang menggunakan bahan kimia, dikhawatirkan akan membuat nyamuk menjadi kebal.
“Adapun cara paling efektif adalah dengan memberantas sarang nyamuk melalui 3 m yakni menguras, mengubur dan menutup tempat – tempat air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,“ ujar Yasna.
Dengan uji coba ini, Sampel jentik dan nyamuk dewasa ini rencananya akan diteliti lebih lanjut di BBTKLPP di Banjarbaru.