Search
Close this search box.
  1. Home
  2. »
  3. Kalsel
  4. »
  5. Kalsel Didapuk Sebagai Penopang Pangan IKN, BRIDA Buat Kajian

Kalsel Didapuk Sebagai Penopang Pangan IKN, BRIDA Buat Kajian

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

Headline9.com, BANJARBARU – Pertumbuhan Penduduk dari tahun ke tahun (year on year) di Kalimantan termasuk Kalsel terus bertambah. Kebutuhan pangan pun berangsur meningkat tajam. Ini berdampak pada kualitas hidup sebagai penyangga pangan Ibu Kota Negara (IKN).

Sejumlah strategi juga dilakukan pemerintah daerah ditingkat provinsi Kalsel. Termasuk bagaimana mengejar langkah tepat untuk bisa menjadikan kebutuhan pangan bagi hajat orang banyak mampu terpenuhi secara berkelanjutan tak hanya nasional tetapi juga lokal.

Sebelumnya, Kalsel ditargetkan minimal 40% sebagai penyandang pangan atas kebutuhan di IKN Nusantara oleh Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia. Selain didapuk menjadi pintu gerbangnya.

Karena itu, perlu ada kajian yang serius atas penetapan pemerintah pusat kepada daerah agar bisa terpebuhinya lumbung pangan. Lewat seminar akhir kajian penguatan ketahanan pangan di Kalsel maka diharapkan mampu menemukan titik temu agar menjadi solusi tepat.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalsel, Muhammad Amin, menyampaikan, rencana berpindahnya IKN ke Kalimantan Timur (Kaltim) membuat kebutuhan pangan seperti komoditi beras diprediksi meningkat. Bahkan jumlahnya akan semakin besar seiring imigrasi besar-besaran terjadi pasca kantor kenegaraan mulai diisi puluhan ribu pegawai.

Apalagi, saat ini keperluan pangan di Kalsel menjadi sangat vital. Tak hanya bagi IKN saja melainkan di daerahnya, Bumi Lambung Mangkurat.

“Semoga ini menjadi tepat dan bermanfaat di Kalsel karena bicara ketahanan pangan yang jelas provinsi ini sudah dideklarasikan sebagai pintu gerbangnya IKN dan 2024 sejumlah perkantoran mulai ditempati. Ada sekitar puluhan ribu yang masuk Kaltim, ini kan jelas akan memerlukan pasokan pangan,” paparnya, sesuai membuka kajian seminar akhir penguatan ketahanan pangan, di aula BRIDA Kalsel, Rabu (23/11) siang.

BACA JUGA :  Dari 1.672 Hanya 854 Unit Yang Aktif, BUMDes di Kalsel Diminta Berbenah

Lanjutnya, semoga ketahanan pangan Kalsel kuat. Selain bisa memenuhi stok pangan dalam daerah tentu juga mampu menyuplai ke IKN,” tambahnya.

Menyikapi Kalsel didapuk sebagai penopang pangan, menurut Amin, kajian akhir yang digelar dan dihadiri seluruh kabupaten/kota dianggap sangat baik.

Kajian tersebut pula sangat relevan sebagai pedoman dalam mengentaskan krisis pangan. Yang saat ini kualitas hasil panen juga menurun. Tentu, dampak tersebut dipengaruhi El Nino (panas ekstrim).

“Nah, dengan adanya kajian itu langkah yang diambil dapat lebih sempurna. Kemudian, hasilnya bermanfaat baik itu Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel termasuk kabupaten/kota. Yang jelas sudah dianalisis secara dalam oleh tim peneliti,” ucapnya.

Hasil kajian ini juga mengarah lagi pada pemaksimalan cadangan pangan pemerintah (CPP) sebagai pengendali harga. Yang otomatis mengarahkan naik di pasaran. Tak ketinggalan, keterlibatan ini pun turut berdampak terhadap kestabilan inflasi yang selama selalu dijaga.

Peneliti pada BRIDA Kalsel, Muhammad Noor, menyebut, kalau tahun 2024 jumlah hasil gabah di Kalsel diprediksi menurun. Bahkan, cenderung berkurang.

Dibandingkan tahun 2018 lalu, surplus beras di Kalsel mencapai 400 ribu ton. Sedangkan, tahun ini hanya memperoleh gabah kering sebesar 80 ribu ton.

“Mungkin di 2023 ada lagi produksi beras kita tetapi makin menipis surplusnya. Berarti kan tahun depan di bawah lagi dan bisa-bisa makin terancam nih sehingga apabila pasokan kita dibawa keluar ya akhirnya menurun kemampuan produksi kita,” ungkapnya.

Kajian ini juga dikuatkan dengan hasil data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel. Yang mana, perbandingan ini didapatkan antara rentang tahun 2018 – 2022.

BACA JUGA :  South Borneo Expo 2023: Ajakan Paman Birin kepada Calon Investor dan Agregator

“Jangan sampai diperlihatkan terus menerus karena kalau ini dibiarkan tanpa adanya penanganan. Mungkin hal itu juga terjadi saat banjir melanda tahun 2020 lalu yang merendam ribuan lahan persawahan yang mengakibatkan padi-padi rusak,” ucapnya.

Ia turut khawatir, dampak El Nino juga bakal mempengaruhi terjadi penurunan produksi gabah (beras). “Nah, ini juga harus diwaspadai, maka, ada kajian tersebut sebagai langkah kita mengantisipasi sebenarnya. Ya, harapannya bisa mendongkrak kebutuhan beras apalagi menjadi penopang IKN,” beber M Noor.

Disebutkan, penghasil produksi beras terbesar di Kalsel ada empat cakupan wilayah yakni Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Barito Kuala (Batola).

Diketahui, terbesar produksi beras pertama berada di Batola mencapai 182.840,52 ton. Disusul Kabupaten Banjar 141.592,52 ton. Ketiga, Hulu Sungai Tengah (HST) 110.296,58 ton. Keempat, Tapin 104.741,11 ton. Yang semuanya terjadi di tahun 2022 kemarin.

Agar terlaksananya itu, terpenting adalah sistem pengairan untuk lahan persawahan yang harus jadi perhatian dalam peningkatan produksi beras. “Termasuk pengoptimalan irigasi ya apabila ini kewenangannya ada di pemda kita bisa laksanakan tetapi apabila itu juga ada pusat maka harus dikoordinasikan,” papar dia.

Hasil finalisasi dari kajian tersebut, diharapkan pula mampu menopang dan mendorong ketersediaan bahan pokok termasuk komoditi beras. Tak hanya terpenuhi untuk IKN saja melainkan di tanah Kalsel sendiri.

“Makanya kami memprioritaskan agar ketersediaan ini harus ditingkatkan jangan dibiarkan menurun. Jadi, trennya yang saat ini dianggap menurun ya minimal bisa dikembalikan ke posisi tahun 2018,” pungkasnya.

Reporter : Riswan Surya
Editor : Nasrullah

Baca Juga