Search
Close this search box.
  1. Home
  2. »
  3. Kalsel
  4. »
  5. Mengungkap 7 Situs Geopark Meratus di Bagian Utara Kalsel Yang…

Mengungkap 7 Situs Geopark Meratus di Bagian Utara Kalsel Yang Melegenda

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

Headline9.com – Bentang alam yang unik, membuat Kalsel mulai dilirik dunia. Tak hanya keajaiban alam, melainkan beragam cagar budayanya. Termasuk, 7 situs di utara yang dikenalkan Geopark Meratus.

Lewat kegiatan Field Trip Geopark Meratus 2023 yang dihelat selama 2 hari itu (9-10 Desember), ternyata bagian utara Kalsel memiliki 7 situs menarik untuk diperkenalkan ke masyarakat secara luas.

Kali ini, situs yang dimaksud tersebar di Kabupaten Banjar dan Hulu Sungai Selatan (HSS). Menariknya, situs itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Nah, apa saja yang ada di bagian utara Kalsel. Kali ini, 3 situs mewakili Kabupaten Banjar. Daerah yang berjuluk Bumi Barakat atau dikenal kota intan itu menyimpan kekayaan alam dan cagar budaya di dalamnya.

Berikut ulasannya :

  1. Situs Rumah Adat Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku di Teluk Selong Ulu (Martapura Barat)

Rumah adat tersebut sudah ditinggali sebanyak 5 – 4 regenasi. Dibangun sejak tahun 1811 oleh H M Arif dan Hj Fatimah. Pemilik ini adalah seorang saudagar.

Menurut sejarah, rumah adat bubungan tinggi dan penyerupai kepala gajah (Gajah Baliku) itu sempat menjadi markas dan tempat latihan para pejuang kemerdekaan (TKR). Rumah ini juga ditetapkan sebagai warisan tak benda oleh Kemendikbudristek.

Secara geografis, terletak pada koordinat 3⁰ 22′ 39.3″ Lintang Selatan (LS) 114⁰ 49′ 59.4″ Bujur Timur (BT). Secara administrasi berada di kawasan Desa Teluk Selong Ulu, Martapura Barat. Lokasi ini berjarak sekitar 9 km dari Ibu Kota Provinsi Kalsel, Banjarbaru.

Untuk menuju ke warisan cagar budaya nasional ini dapat ditempuh kendaraan roda dan empat.

  1. Situs Tambang Batubara Oranje Nassau di Desa Lok Tunggul (Pengaron)

Situs ini merupakan aktivitas pertambangan pertama di Kalimantan. Peninggalan benda bersejarah (situs geologi) ini juga dapuk tertua di Indonesia. Diresmikan sejak 28 September 1849 oleh Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen. Sayangnya, aktivitas eksploitasi yang dilakukan Hindia Belanda ini berjalan 1859 – 1905.

Secara geografis, Oranje Nassau terletak pada koordinat 3⁰ 18′ 17.45″ Lintang Selatan (LS) 115⁰ 6′ 16.69″ Bujur Timur (BT). Lokasi ini berjarak 43 km dari Ibu Kota Provinsi Kalsel, Banjarbaru, dan dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dan empat.

  1. Singkapan Batubara Formasi Tanjung (Pengaron)
BACA JUGA :  Jalan Nasional Putus Di Astambul-Mataraman

Singkapan (outcrop) ini tercatat masuk dalam jajaran Geopark Meratus. Selain unik, kawasan ini berada di lokasi pertambangan yang ada di Pengaron.

Secara geografis, terletak pada koordinat 3⁰ 17′ 31.90″ Lintang Selatan (LS) 115⁰ 4′ 5.20″ Bujur Timur (BT). Secara administrasi berada di kawasan Desa Lawiran, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar. Lokasi ini berjarak 37 km dari Banjarbaru, dan dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dan empat.

Setelah mengenalkan 3 situs yang ada di Kabupaten Banjar. Puluhan jurnalis turut diajak BP Geopark Meratus menyisir dan melihat langsung 4 situs di Hulu Sungai Selatan (HSS) yang memiliki keajaban alam. Kurang lebih menempuh 2 jam perjalanan, berjarak 74,9 km.

  1. Situs Air Terjun Kilat Api, Loksado, HSS

Situs ini masuk dalam jajaran Geopark site Meratus. Secara administrasi terletak di Desa Hulu Banyu, Loksado, Hulu Sungai Selatan. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar 33 km dari Kota Kandangan.

Namun, apabila dimulai dari Ibu Kota Kalsel, Banjarbaru, berjarak sekitar 126 km dan masih bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan empat.

Air terjun ini mempunyai kelerengan yang tak terlalu curam. Dengan ketinggian sekitar 15 meter dan terdiri dari berbagai tingkatan, sehingga memiliki kelokan air yang indah menyerupai kelokan api. Sehingga, masyarakat sekitar menamainya kilat api.

Dari hasil penelitian, air terjun ini merupakan dari kelompok granit betanglai/belawaian yang berumur sekitar 95 – 135 juta tahun lalu (kapur akhir). Di mana pada periode tersebut aktivitas vulkanisme di kawasan Pegunungan Meratus berlansung cukup intens.

  1. Situs Mata Air Panas Tanuhi, Loksado, HSS

Lokasi yang berjarak kurang lebih 31 km dari Kota Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan situs ini masuk dalam kawasan Pegunungan Meratus.

Terdapat dua sumber mata air panas non vulkanik. Kawasan ini terbentuk oleh peluruhan radioaktif seperti uranium, thorium dan potassium yang dapat menghasilkan sumber panas.

Tenaga Ahli Badan Pengelola (BP) Geopark Meratus, Arif Nur Rahman Nugroho, menyebut, saat ini masih terdapat satu sumber yang tercatat belum disentuh pengembangan ekowisata. Ini merupakan situs yang masuk dalam jajaran Geopark sitenya Meratus.

BACA JUGA :  Jelang Ramadhan Ketersedian Daging Aman

Berdasarkan penelitian, kemunculan sumber air panas di kawasan ini termasuk di dalam kategori sistem panas bumi non volkanik radiogenik. Umumnya sistem ini ditemukan batuan plutonik dan bebatuan granik.

  1. Situs Pemandangan Bukit Kantawan, Loksado, HSS.

Pemandangan Bukit Kantawan berlokasi di Desa Hulu Banyu, Loksado, Hulu Sungai Selatan. Jarak ditempuh ke lokasi ini sekitar 32 km yang dimulai dari Kota Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.

Berdasarkan sejarah, Bukit Kantawan yang mempunyai ketinggian 400 meter diatas permukaan laut (Mdpl) ini terbentuk oleh proses kejadian bumi (geologi) yang tersusun oleh batugamping Formasi Batununggal yang berumur 95-135 juta tahun yang lalu (Kapur Awal).

“Batu gamping ini terbentuk pada depan teran Patenoster (Australia) saat hanyut pada zaman Kapur Awal. Tahun 1979 kawasan hutan di Bukit Kantawan telah menjadi kawasan Cagar Alam (Surat Keputusan Menteri Pertanian No 109/Kpts-Um/2/1979),” Tenaga Ahli Bidang Geodiversity (geologi) Badan Pengelola (BP) Geopark Meratus, Arif Nur Rahman Nugroho.

  1. Situs Pemandangan Bukit Langara, Loksado, HSS.

Puncak bukit Langara, sejatinya dapat memandang Bukit Kantawan, Sungai Amandit, dan Pegunungan Meratus secara 360⁰. Pemandangan Bukit Langara berlokasi di Desa Lumpangi, Loksado, Hulu Sungai Selatan.

Lokasi tersebut dapat ditempuh dari Mata Air Panas Tanuhi sekitar 8 km atau sekitar 23 km dari Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan menggunakan kendaraan roda dua/empat.

Bukit Langara yang mempunyai ketinggian sekitar 200 meter diatas permukaan laut (Mdpl) ini terbentuk oleh proses kejadian bumi (geologi) yang tersusun oleh batugamping Formasi Batununggal yang berumur 95 – 135 juta tahun yang lalu (Kapur Awal).

Untuk menuju Puncak Bukit Langara, dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20-30 menit (660 meter) dari tempat parkir kendaraan. Situs ini merupakan salah satu Geopark site Meratus bagian utara Kalsel.

Ketua Harian BP Geopark Meratus, Hanifah Dwi Nirwana, mengatakan, tiga elemen penting yang ada di dalam bagian situs Geopark Meratus adalah geologi, biologi serta culture. “Unsur pendidikan dan ekonomi masyarakat juga diperhatikan,” ujarnya.

Reporter : Riswan Surya
Editor : Nasrullah

Baca Juga