Headline9.com, Batulicin – Menurut Kepala Tekhnik Tambang (KTT) PT Borneo Indobara Riadi Simka Pinem pada acara
Ceremonial Electrification and Green Mining Realization PT BIB di Sebamban senin (9/2/2026) mengatakan, penerapan peralatan tambang berbasis tenaga listrik ini dilakukan sejak 2 tahun terakhir yang dimulai dengan angkutan batubara pit to port, loading di ROM dan fasilitas pendukung tambang (kantor dan workshop) dan diawali penggunaan energi listrik di area pelabuhan sejak 5 hingga 6 tahun lalu.
Perusahaan tambang batubara PT Borneo Indobara di Kabupaten Tanah Bumbu menerapkan praktik pertambangan berbasis listrik sebagai kendaraan operasional guna mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dengan mengganti peralatan pertambangan yang menggunakan bahan bakar fosil menjadi elektrik.
“BIB mendukung program pemerintah dalam hal mengurangi emisi karbon secara aktif, meningkatkan efisien energi dan mendukung ketahanan energi,” katanya.
Disamping itu, PT BIB juga bekerjasama dengan PPA, CK, BMKG dan Furuno dalam melakukan rekayasa atau modifikasi cuaca didalam mengurangi curah hujan ditambang dengan menggunakan teknologi radar, drone serta flare yang mungkin pertama kalinya dilakukan di area tambang di Indonesia.
Chief Operating Officer (COO) PT BIB Raden Utoro mengakui, selama ini perusahaan BIB telah menggunakan kendaraan serta alat berat hybrid dan listrik, tidak lagi menggunakan kendaraan konvensional, BIB merupakan kawasan tambang berbasis listrik.
Lanjutnya, beralihnya ke kendaraan listrik selain mengurangi emisi, juga dinilai mampu menekan biaya operasional, pada saat harga bahan bakar mencapai 300%, namun ini perlu persiapan dan modal besar, karena perusahaan harus mengganti armada sekaligus membangun infrastruktur kelistrikan.
Dia menilai perkembangan teknologi kendaraan listrik produk Cina ini sangat pesat dan cepat, tapi Dia juga mengakui pengalihan armada ke listrik tentu membutuhkan biaya awal tinggi namun biaya operasional dapat dikendalikan secara signifikan.
Untuk menjaga konsistensi produksi perusahaan memanfaatkan rekayasa atmosfer dan teknologi rekayasa cuaca.
Sementara Chief Executif Officer (CEO) PT Golden Energy Mines (GEMS) Bonifasius menyampaikan bahwa penggunaan equipment listrik sebagai tonggak transisi energi perusahaan merupakan sebuah langkah untuk memastikan PT GEMS dan PT BIB berdiri kokoh, relevan dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat dan kompleks dalam menjalankan Sustainable Green Mining Illuminating The World.
“Kita hidup di era yang ditandai oleh krisis multidimensi, krisis lingkungan dan tantangan geopolitik yang semakin dinamis,” ujarnya.
Data menunjukan lanjutnya bahwa tekanan karbon semakin intensif dan seluruh dunia bergerak menuju penurunan emisi secara cepat, ini adalah tuntutan global sekaligus realita bisnis.
Berbagai negara termasuk Indonesia menetapkan target Net Zero Emissions melalui Second Nationally Determined Contribution (SNDC) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
SNDC tidak hanya memuat ambisi lingkungan, tetapi juga menyelaraskan pembangunan rendah karbon dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan jangka panjang ketahanan energi serta daya saing ekonomi Indonesia.
SNDC tidak melarang batubara, namun menempatkan sektor ini dalam kerangka transisi energi yang bertahap dan berkeadilan, artinya operasional tambang harus menurunkan emisi, meningkatkan efisiensi energi dan menciptakan nilai tambah baru.
Kepala Inspektur Tambang Kementrian ESDM Ahmad Syauki mengatakan bahwa pemerintah tengah menyusun pedoman teknis inventarisasi gas rumah kaca untuk memastikan pelaporan emisi dilakukan secara konsisten oleh badan usaha.
“Perpindahan peralatan dan angkutan tambang dari bahan bakar fosil ke peralatan tambang berbasis listrik merupakan inisiatif yang menunjukan praktik baik dari badan usaha,” pungkasnya.
Dia berharap bisa mempercepat arah transformasi sektor pertambangan menuju energi yang lebih bersih tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional.
Budi Harsoyo selaku Ditektur Operasional Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memaparkan, bahwa di luar negerinya sudah banyak melakukan praktek tersebut, sehingga di Indonesia sejumlah perusahaan menyatakan minat merekayasa cuaca meski baru BIB yang melangkah lebih jauh dengan berkolaborasi dengan BMKG.
Teknologi ini dijalankan dengan menggunakan drone, radar dan ruang kontrol, radar mendeteksi potensi hujan, kemudian dianalisa di ruang kontrol sebelum drone di kirim ke area yang diprediksi akan hujan.
Dari pantaun diketahui kurang lebih 150 unit listrik dipamerkan dengan berbagai type (Grader, Wheel Loader EV, Excavator, DT EV (40-50t), Widebody EV, Forklift, Tower Lamp, Electric Pump EV, LV, Drone dan Charging pile.
















