headline9.com, BANJARBARU – Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru memperkuat layanan kesehatan dan percepatan penanganan stunting sebagai strategi utama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang tercermin pada capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 82,20 dan angka harapan hidup 75,44 tahun pada 2025, sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera).
Sektor kesehatan menjadi salah satu indikator utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia. IPM yang tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan, tetapi juga oleh derajat kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru dr. Juhai Triyanti Agustina, M.MKes, menyampaikan peningkatan angka harapan hidup menunjukkan keberhasilan layanan kesehatan yang semakin merata.

“Angka harapan hidup kita sudah mencapai 75,44 tahun. Ini mencerminkan bahwa akses layanan kesehatan semakin baik, dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan,” ujarnya.
Namun demikian, tantangan utama yang masih dihadapi adalah penanganan stunting yang menjadi fokus nasional sekaligus prioritas daerah. Stunting tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Untuk itu, Dinas Kesehatan menerapkan pendekatan terintegrasi yang melibatkan berbagai OPD. Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Seperti data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) menjadi dasar utama dalam menentukan sasaran intervensi. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat mengidentifikasi keluarga berisiko stunting secara lebih tepat.
“Data dari Disdukcapil sangat penting. Kita bisa tahu jumlah balita, ibu hamil, serta distribusinya di wilayah. Ini menjadi dasar intervensi kita,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Sosial juga memiliki peran strategis dalam penanganan stunting, terutama melalui program bantuan bagi keluarga miskin dan kelompok rentan. Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting, sehingga intervensi sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Data menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Banjarbaru berhasil ditekan menjadi 3,44 persen pada 2025. Penurunan ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Di sisi lain, dukungan anggaran dari BPKAD menjadi faktor penting dalam keberhasilan program kesehatan. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026, sektor kesehatan tetap menjadi prioritas.
Program penanganan stunting, peningkatan layanan kesehatan, serta penguatan fasilitas kesehatan tetap mendapatkan alokasi anggaran yang memadai.
Pendekatan berbasis data yang dilakukan oleh Bapperida juga memperkuat perencanaan program kesehatan. Data dari berbagai OPD diintegrasikan untuk menentukan prioritas intervensi, sehingga program yang dijalankan lebih tepat sasaran.
Selain penanganan stunting, Dinas Kesehatan juga fokus pada peningkatan layanan kesehatan dasar. Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya terus diperkuat untuk memastikan masyarakat mendapatkan layanan yang cepat dan berkualitas.
Digitalisasi layanan kesehatan juga mulai dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas. Sistem informasi kesehatan digunakan untuk memantau kondisi masyarakat serta mempercepat pengambilan keputusan.
Korelasi dengan sektor pendidikan juga menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas kesehatan. Program edukasi kesehatan di sekolah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sejak dini.
Hal ini sejalan dengan capaian sektor pendidikan yang menunjukkan peningkatan angka rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Pendidikan yang baik akan berdampak pada pola hidup sehat masyarakat.
Sementara itu, infrastruktur yang dibangun oleh Dinas PUPR juga berkontribusi terhadap kesehatan lingkungan. Sistem drainase yang baik membantu mencegah penyakit berbasis lingkungan, seperti demam berdarah dan penyakit lainnya.
Dinas Kesehatan juga bekerja sama dengan BKPSDM dalam penguatan sumber daya manusia di sektor kesehatan. Tenaga kesehatan terus ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas.
Ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten menjadi kunci dalam memberikan layanan yang berkualitas kepada masyarakat.
“SDM kesehatan harus terus ditingkatkan, karena mereka yang langsung berhadapan dengan masyarakat,” ujarnya.
Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, menegaskan bahwa sektor kesehatan menjadi prioritas dalam pembangunan daerah.
“Kesehatan adalah dasar dari semua pembangunan. Kalau masyarakat sehat, maka sektor lain juga akan ikut berkembang,” ujarnya.
Erna Lisa Halaby menekankan pelayanan kesehatan harus terus ditingkatkan, terutama bagi kelompok rentan.
“Kita ingin semua masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang sama, tanpa terkecuali. Ini bagian dari keadilan sosial,” tegasnya.
Ke depan, Dinas Kesehatan menargetkan peningkatan kualitas layanan serta penurunan angka stunting secara signifikan. Program intervensi akan terus diperkuat melalui pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.
Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat juga menjadi fokus utama. Edukasi kesehatan akan terus digalakkan untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
Dengan pendekatan terintegrasi ini, Dinas Kesehatan tidak hanya berperan dalam memberikan layanan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pembangunan yang lebih luas.
Kesehatan menjadi fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yang pada akhirnya mendukung terwujudnya visi Banjarbaru EMAS.
Dengan demikian, capaian IPM yang tinggi bukan hanya angka statistik, tetapi merupakan hasil dari kerja bersama seluruh OPD yang saling terhubung dalam satu sistem pembangunan yang terarah dan berkelanjutan.









