Search
Close this search box.
  1. Home
  2. »
  3. Tanah Bumbu
  4. »
  5. DKBP3A Tanbu Ulas Isu Gender Beserta Dampaknya 

DKBP3A Tanbu Ulas Isu Gender Beserta Dampaknya 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

Headline9.com, BATULICIN – Terkait dengan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) ada dua indikator yakni indek pembangunan gender dan indek pengarusutamaan gender .

Indek pembangunan gender 2023 untuk Tanah Bumbu (Tanbu) masih berposisi 85,9 persen dan masih jauh dari angka nasional yang seharusnya berposisi pada angka 91 sekian persen.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Tanbu melalui Sekretarisnya Kartini, dalam sosialisasi Pelaksanaan Advokasi Pendampingan PPUG Dan PPRG, di Aula PKK, Senin (18/9) Kecamatan Simpang Empat.

“Kalau IGD kita masih berposisi 65 persen dari tahun lalu dan itupun juga masih jauh dari angka nasional yang pada angka 75 persen lebih,” sebutnya.

BACA JUGA :  Program 1 Desa 100 Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Sasar Pekerja Rentan

Lanjutnya, dengan kondisi ini merupakan pekerjaan rumah yang harus kita kejar bersama tanpa hanya DKBP3A saja.

Terkait dengan isu gender itu tentu berbeda dengan kata jenis kelamin, kerena gender ini berkaitan dengan persoalan sosial atau soal peran.

“Kenapa ini diangkat, kerena isu gender ini bisa menimbulkan dampak, contoh isu gender, bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.kerena dia akan jadi ibu rumah tangga saja,” paparnya.

Sambungnya, dampak dari isu ini akan menyebabkan perempuan tidak dituntut untuk melakukan pendidikan yang setinggi tingginya, cukup SLTA saja dan dipersiapkan untuk di jodohkan.

BACA JUGA :  Gaji Non ASN Pemkab Tanbu Tahun Depan Naik.

Kemudian perempuan hanya meurus berkaitan logistik saja atau mengurus anak, rumah hingga masak, sehingga ini akan berdampak pada penyakit kerena hanya disekitar itu, itu saja.

Disisi lain terangnya, perempuan juga tidak berdaya kerena disegi keuangan hanya mengharapkan pemberian suami.

“Ini juga akan berdampak, bisa saja pemberian suami tidak sesuai dengan keperluan kebutuhan dalam rumah tangga, lama kelamaan bisa saja menimbulkan konflik rumah tangga,” tuturnya.

“Hal inilah yang menjadi dampak penting sehingga isue gender itu harus diangkat, sebab bukan hanya persoalan peran karena peran ini menimbulkan dampak, justru inilah yang harus kita atasi,” pungkasnya.(MHL)

Baca Juga