Search
Close this search box.
  1. Home
  2. »
  3. Banjar
  4. »
  5. Kemarau 2023 Merupakan Yang Terparah Dari 7 Tahun Lalu, Ini…

Kemarau 2023 Merupakan Yang Terparah Dari 7 Tahun Lalu, Ini Penyebabnya

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

Headline9.com, MARTAPURA – Musim panas di tahun 2023 merupakan yang terparah, karena mengalami kemarau kering yang ditempeli El Nino.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Syamsuddin Noor, Karmana saat ditemui Headline9.com di ruang kerjanya beberapa saat lalu menjelaskan, El Nino yang hebat terjadinya selama sekali dalam 4 tahun.

El Nino sebelumnya terjadi pada 2015, 2019 dan saat ini pada 2023 yang mana cukup parah karena berbarengan dengan musim kemarau kering.

IMG 20231021 WA0098

“Jika sebelumnya itu tidak terlalu terasa karena El Nino ini menempel pada musim kemarau basah, nah pada tahun ini dia (El Nino, red) menempel pada musim kemarau kering jadi terasa cukup parah,” jelasnya.

Karmana juga menjelaskan pada saat ini, status El Nino memasuki moderat namun akan sampai pada Februari 2024 mendatang. “Tapi ini tidak terlalu terasa mas, karena menempel pada musim hujan. Jadi tergantung nempelnya di mana, awal kemarau atau sepanjang musim hujan,” terangnya.

BACA JUGA :  Saidi Minta Tata Ulang Kota Martapura

Berdasarkan data BMKG Kelas II Syamsuddin Noor, puncak kemarau akan berakhir pada September kemarin. Walau mundur dari yang diperkirakan oleh pihaknya pada Oktober saat ini.

Selain itu, untuk musim hujan masuk pada bulan Januari yang ternyata mengalami kemunduran dari seharusnya terjadi pada September, selama 220 sampai 240 hari. walau biasanya terjadi selama 250 hari, namun masih dalam batas normal.

Selain itu, Brin bersama dengan TNI juga telah melakukan hujan buatan selama El Nino yang dikerjaka pada Juli sebanyak 4 kali, dan September dari 23 hingga 29, pada bulan Oktober dari tanggal 3 hingga 10 dan ditambah pada 11 hingga 20.

Karmana menerangkan, pada saat ini cuaca telah memasuki pancaroba dimana peralihan hujan menuju kemarau, sehingga mengakibatkan labilitas udara membentuk awan Kumolonimbus (awan tumpukan hujan besar), angin kencang, serta kilat dan petir.

BACA JUGA :  Haul ke-14 Abah Guru Sekumpul 2019 : Kombain Peta Jalur dan Bersih dari Atribut Politik dan

“Kenapa akhir ini sering hujan, karena kita saat ini dilalui oleh gelombang kelvin,” bebernya.

Gelombang Kelvin terjadi karena angin dari Samudra India ke Samudra Pasifik, biasanya terjadi 30 sampai 40 hari. Selain itu, juga terjadi Gelombang Rossby yang berasal dari angin Samudra Pasifik ke Samudra Hindia dengan kurun waktu 3 sampai 4 hari, namun akan datang dan hilang tidak menentu.

Selain itu, dalam beberapa hari belakangan juga terjadi tekanan rendah pada daerah Laut Cina Selatan, hal tersebut yang mengakibatkan berbagai macam angin yang bentrok mengakibatkan hujan terjadi di Kalimantan Selatan. “Karena semuanya itu memabawa air, jadi ada baik buruknya juga, sebelumnya daerah kita kering kerontang akhirnya ada hujan juga,” ucapnya.

Baca Juga