BerandaBanjarbaruBanjarbaru Bangun Masas Depan Dari Sekolah, SPM dan Indikator Pendidikan Naik

Banjarbaru Bangun Masas Depan Dari Sekolah, SPM dan Indikator Pendidikan Naik

headline9.com, BANJARBARU – Di tengah pertumbuhan sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru menaruh satu fondasi penting bagi masa depannya: pendidikan. Di balik pembangunan jalan, kawasan permukiman, dan geliat ekonomi kota, pemerintah daerah kini memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM), Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan Harapan Lama Sekolah (HLS).

Data Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru menunjukkan SPM pendidikan pada 2025 mencapai 88,94, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya sebesar 79,84. Di waktu yang sama, RLS berada di angka 11,07 tahun, sedangkan HLS mencapai 14,87 tahun. Deretan angka itu menunjukkan gambaran akses pendidikan warga semakin luas dan kualitas layanan terus membaik.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Abdul Basid, mengatakan peningkatan SPM menjadi indikator penting keberhasilan pelayanan dasar pendidikan.

img 1503
Banjarbaru Bangun Masas Depan Dari Sekolah, SPM dan Indikator Pendidikan Naik 2

“Tahun 2025 capaian SPM kita berada di angka 88,94. Ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya dan menunjukkan kualitas layanan pendidikan semakin baik,” ujarnya.

SPM menjadi ukuran pemenuhan layanan dasar yang wajib diberikan pemerintah kepada masyarakat. Ketika nilainya meningkat, hal itu menandakan sekolah, sarana pendukung, tenaga pengajar, dan tata kelola pendidikan bergerak ke arah yang lebih baik.

Sementara itu, RLS menunjukkan rata-rata lama penduduk mengenyam pendidikan formal. Dengan angka 11,07 tahun, rata-rata warga Banjarbaru telah menempuh pendidikan hingga jenjang menengah atas. Sedangkan HLS sebesar 14,87 tahun menunjukkan anak-anak usia sekolah memiliki peluang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

BACA JUGA :  Kantor Desa Teluk Selong Ulu Digeruduk Puluhan Warga, Geram Ada Sumbangan HUT RI ke Kecamatan

“Indikator ini menunjukkan akses pendidikan semakin luas dan kualitasnya semakin baik,” kata Basid.

Namun, pembangunan SDM tidak berjalan tanpa tantangan. Pemerintah masih menghadapi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS), kelompok usia pendidikan yang belum atau tidak lagi mengenyam bangku sekolah. Jika tidak ditangani, kondisi itu berpotensi menahan laju peningkatan RLS dan HLS.

“ATS ini menjadi perhatian serius. Kalau tidak ditangani, akan mempengaruhi capaian pendidikan kita secara keseluruhan,” ujarnya.

Karena itu, penanganan ATS dilakukan lintas sektor. Dinas Sosial Kota Banjarbaru dilibatkan untuk membantu keluarga rentan secara ekonomi. Banyak kasus anak putus sekolah dipicu keterbatasan biaya, sehingga solusi tidak cukup hanya dari sektor pendidikan.

“Kalau masalahnya ekonomi, maka kita harus libatkan Dinsos. Ini tidak bisa diselesaikan oleh Dinas Pendidikan saja,” kata Basid.

Di sisi perencanaan, Bapperida Kota Banjarbaru berperan memastikan setiap kebijakan berbasis data. Pemerintah memanfaatkan data ATS, RLS, HLS, hingga sebaran siswa untuk menentukan prioritas program dan lokasi intervensi.

“Semua program sekarang harus berbasis data. Kita tidak bisa lagi bekerja tanpa data yang jelas,” ujarnya.

Tantangan lain datang dari kebutuhan tenaga pendidik. Banyak guru memasuki masa pensiun, sementara kebutuhan pembelajaran terus bertambah seiring pertumbuhan kota. Untuk itu, Dinas Pendidikan bekerja sama dengan BKPSDM Kota Banjarbaru melakukan pemetaan kebutuhan guru dan distribusi tenaga pengajar agar lebih merata.

BACA JUGA :  Wakil Ketua Bhayangkari Kalsel Berikan Bingkisan Tali Asih Peringati 29 Tahun Pengabdian Alumni Akpol 1991

“Kita menghadapi tantangan dalam ketersediaan guru. Banyak yang pensiun, sementara kebutuhan terus meningkat,” katanya.

Selain jumlah guru, kualitas pengajar juga menjadi perhatian. Pelatihan literasi, numerasi, serta pemanfaatan teknologi terus dilakukan. Sekolah juga mulai dikenalkan pada pembelajaran koding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebagai bekal generasi muda menghadapi era digital.

“Pembelajaran berbasis teknologi menjadi kebutuhan. Kita harus menyiapkan generasi yang siap menghadapi era digital,” ujar Basid.

Pembangunan manusia di Banjarbaru tidak hanya bertumpu pada kemampuan akademik. Pemerintah juga menanamkan penguatan karakter melalui keterlibatan ulama dan tokoh agama dalam pembinaan siswa. Pendekatan ini sejalan dengan visi Banjarbaru EMAS, yang menekankan kemajuan kota dengan keseimbangan intelektual, moral, dan kesejahteraan sosial.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pembangunan pendidikan.

“Kalau kita ingin Banjarbaru maju, maka pendidikan harus kita perkuat. Ini investasi jangka panjang. Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada dukungan dari sektor lain agar hasilnya maksimal,” tegasnya.

Dengan capaian SPM yang meningkat, RLS yang terus bergerak naik, dan HLS yang semakin tinggi, Banjarbaru sedang menyiapkan fondasi penting menuju kota masa depan. Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya soal gedung dan jalan, melainkan tentang manusia yang tumbuh, terdidik, dan siap membawa daerahnya melangkah lebih maju. (Nash)

- Advertisment -
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
headline9
- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular