Berandalapsus banjarbaruBPKAD Banjarbaru Jaga Arah EMAS di Tengah Tekanan APBD 2026

BPKAD Banjarbaru Jaga Arah EMAS di Tengah Tekanan APBD 2026

Efisiensi Berbasis Prioritas, Layanan Publik Tetap Terjaga

headline9.com, BANJARBARU – Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Banjarbaru menjaga arah pembangunan Banjarbaru EMAS dengan menerapkan efisiensi berbasis prioritas pada APBD 2026 yang turun dari Rp1,7 triliun pada 2025 menjadi Rp1,4 triliun, tanpa mengganggu pelayanan publik dan program strategis lintas OPD.

Penurunan anggaran ini menjadi titik krusial dalam dinamika pembangunan daerah, terutama dalam menjaga target RPJMD 2025–2029 tetap berjalan. Dalam kondisi fiskal yang terbatas, BPKAD tidak hanya berperan sebagai pengelola keuangan, tetapi juga sebagai penentu arah prioritas pembangunan.

Kepala BPKAD Banjarbaru, Drs. Rahmat Taufik, M.Si, menegaskan kebijakan efisiensi dilakukan secara selektif dan terukur dengan memangkas program yang tidak prioritas.
“Kita tetap fokus pada pencapaian visi dan misi. Karena anggaran terbatas, program yang tidak prioritas atau bisa ditunda yang dikurangi,” ujarnya.

Pendekatan ini menempatkan efisiensi sebagai proses penyaringan program, bukan pemangkasan menyeluruh. Kegiatan seremonial dan program yang tidak berdampak langsung menjadi sasaran utama pengurangan, sementara pelayanan dasar tetap dipertahankan bahkan diperkuat.

Di sektor kesehatan, program penanganan stunting, peningkatan layanan, serta dukungan terhadap capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 82,20 tetap berjalan. Di sektor pendidikan, peningkatan kualitas layanan juga dipertahankan dengan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) 88,94 serta penguatan indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS).

BACA JUGA :  Kapolda Kalsel Pimpin Langsung Simulasi Penanganan Karhutla

Namun, efisiensi paling terasa pada sektor infrastruktur. Dinas PUPR menyesuaikan program pembangunan fisik dengan menunda proyek yang tidak mendesak, sementara proyek strategis seperti pengendalian banjir dan konektivitas tetap dilanjutkan.

Pembangunan drainase sepanjang 12,5 kilometer dan penurunan titik banjir dari 52 menjadi 9 titik menjadi indikator bahwa efisiensi tidak menghentikan pembangunan, melainkan mengubah pola pelaksanaannya.

Di sektor transportasi, Dinas Perhubungan tetap mengembangkan layanan Feeder Trans Banjarbaru dengan jumlah penumpang mencapai 162.001 orang pada 2025. Sementara itu, sektor sosial tetap berjalan melalui program bantuan bagi kelompok rentan, dengan angka kemiskinan terjaga di 3,44 persen.

Efisiensi juga mendorong perubahan cara kerja OPD. Setiap dinas dituntut lebih inovatif dalam mengelola anggaran untuk menghasilkan output maksimal dengan sumber daya terbatas.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, menegaskan bahwa efisiensi tidak boleh menurunkan kualitas pelayanan publik.

“Kita harus memastikan bahwa masyarakat tetap mendapatkan pelayanan terbaik, meskipun anggaran terbatas,” ujarnya.

BACA JUGA :  Waspada! Puncak Curah Hujan di Kalsel Hingga Januari 2024, Berpotensi Bencana Alam

Selain itu, Lisa juga menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan keuangan daerah. “Setiap rupiah harus digunakan secara tepat dan memberikan manfaat,” katanya.

Dalam konteks lebih luas, kebijakan efisiensi ini menjadi momentum pembenahan tata kelola keuangan daerah, melalui penghapusan kegiatan yang tidak berdampak, penguatan program prioritas, serta peningkatan akuntabilitas.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Status Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi membawa tekanan kebutuhan pembangunan yang tinggi, di tengah keterbatasan fiskal dan meningkatnya tuntutan pelayanan publik.

Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk lebih cermat dalam menentukan prioritas, dengan setiap keputusan anggaran harus berbasis data, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Peran BPKAD pun menjadi semakin strategis, tidak hanya sebagai pengelola keuangan, tetapi sebagai penjaga arah pembangunan daerah.

Dengan pendekatan berbasis prioritas, pembangunan Banjarbaru tetap berjalan di tengah keterbatasan. Visi Banjarbaru EMAS tidak berhenti, melainkan diuji melalui kemampuan menjaga keseimbangan antara efisiensi dan keberlanjutan pembangunan.

Ke depan, konsistensi disiplin anggaran, inovasi pelaksanaan program, serta penguatan kolaborasi lintas OPD menjadi kunci agar Banjarbaru tidak hanya bertahan, tetapi terus melaju menuju target pembangunan yang telah ditetapkan. (nash)

- Advertisment -
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
headline9
- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular