Gelar Salat Istisqo, Berharap Turun Hujan dan Kurangi Harhutla

HEADLINE.COM,BANJARBARU – Musim kemarau yang menyebabkan terjadinya kebakaran lahan dan hutan, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel menggelar salat Istisqo (minta hujan) di Lingkup Dinas Kehutanan Pada Minggu Pagi (15/09/2019).

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan Hanif Faisol Nurofiq bersama Pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel beserta Santri yang dalam kegiatan tersebut.

Bertindak sebagai Imam dan penceramah pada salat Istisqo tersebut adalah Dr Al Habib Alwi Bin Hamid Bin Syihab Farin, dari Hadralmaud Yaman.

Habib Alwi berpesan kepada masyarakat wilayah Kalimantan Selatan, agar lebih mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara bertaubat, perbanyak Istigfar, jangan meninggalkan salat, jangan memutuskan sillaturahim dan jauhilah perbuatan maksiat.

Dari data yang terhimpun oleh Dinas Kehutanan Kalsel, 630 hektare lahan yang terbakar dengan berbagai macam sebaran, dari luasan itu sekitar 130 hektare itu masuk areal kehutanan.

“Perkiraan saya tahun ini musibah kebakaran lahan gambut tidak akan mudah dipadamkan dengan waterbombing pun ini tidak akan mudah dimatikan, Kalau water boombing ini hanya bisa dimatikan bagian atas, untuk gambut itu akan menyala lagi dari bawah. Kebakaran lahan di Gambut bisa dipadamkan dengan cara disuntikkan air di dalam tanah,” Jelas Hanif.

Di jelaskan dia, agar kita bebas dari asap maka semua lapisan masyarakat harus ramai-ramai menyirami gambut itu sampai jenuh, diperlukan langkah sungguh-sunguh tidak hanya formalitas, tapi harus turun kelapangan untuk memadamkan api sebisanya.

Pemerintah Provinsi Kalsel juga sudah melakukan berbagai upaya, termasuk juga fatwa haramnya MUI soal membakar hutan lahan, termasuk membiarkan pembakaran hutan dan lahan.

“Kedepan harus diantisipasi lebih awal. Kalau semacam ini banyak biaya yang dikeluarkan per helikopter satu jam Rp20 juta kalau dikalikan 20 kali yang bisa ratusan juta. Harusnya ini sudah bisa dilakukan atau distribusi kepada pemberdayagunaan pertanian agar bagaimana tidak terjadi kebakaran dan memperbanyak project areal gambut untuk pertanian intensive,” ungkap Hanif.

Menurutnya, Kalsel sudah mengidentifikasi areal Liang Anggang nanti didesain areal pertanian intensif dan sudah dikomunikasikan dengan Bapedda dan pertanian ULM.

“Tahun ini kita anggarkan desainnya sekitar Rp500 juta, melalui Bapedda, dimana nanti yang menjadi potensi kebakaran itu nanti dialihkan ke areal pertanian atau penanaman kayu putih, nanti areal itu di musim kering harus tetap ada airnya,” jelas Hanif