HEADLINE9.COM, MARTAPURA – Bunga satu jenis tanaman hortikultura golongan florikultura dan menyimpan nilai ekonomi tinggi. Tanaman hias ini bisa menjadi sandaran penghasilan ketika masuk dalam budi daya. Manfaat dan nilai tambah bagi petani sangat terasa ketika diubah menjadi hasil olahan. Asalkan dibuat variasi sesuai nilai estetika atau keindahannya.
Sumber daya florikultura jenis melati tumbuh subur di Desa Bincau dan Labuan Tabu, Kecamatan Martapura. Juga melimpah di Kecamatan Karang Intan yaitu Desa Karang Intan, Jingah Habang, dan Pandak Daun. Budi daya melati cukup langkah di Indonesia, tercatat baru tiga provinsi yakni Provinsi Kalimantan Selatan (Kabupaten Banjar), Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Total luas lahan existing komoditas bunga melati 21,36 hektare. rata-rata produksi rata-rata 52,5 kilogram tiap hektarenya. Adapun komoditas bunga kenanga adalah 19,185 Hektare dengan penghasilan sekitar 262,5 kilogram perhektare. Kemudian, luas lahan bunga mawar tak lebih dari 2,08 hektare, biasa menghasilkan 157.500 kuntum/hektare.
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) mengidentifikasi 500 petani aktif yang menggantungkan hidupnya dari usaha florikultura. Sekitar 219 orang bertani melati, 180 menanam kenanga dan 101 membudidayakan mawar. Semua tinggal di lima desa yang jadi ikon sentra bunga hias.
Menurut Keterangan Kepala Dinas TPH Banjar HM Fachry, merancang program membudidayakan florikultura sebagai potensi di dua kecamatan. Pemerintah Kabupaten Banjar mewacanakan budi daya berkonsep Agribisnis. Ikhtiar kerja ini dirancang sejak hulu sampai hilir.
Merancang agribisnis bunga jadi usaha tani tanaman bunga Bincau, Labuan Tabu, Karang Intan, Jingah Habang, Pandak Daun cepat berkembang lagi dari sisi produktivitas, luas tanam, serta diversifikasi jenis tanaman hiasnya. Menonjolkan kreasi dan variasi hasil olahan perajin bunga
“Contoh variasi hasil panen dibuat teh melati sedangkan kenanga dan mawar menjadi minyak atsiri,” ujar Fachry.
Ketika Kawasan lima desa diplot sebagai Desa Agrowisata Bunga, keuntungan di depan mata. Desa-desa penghasil bunga jadi objek kunjungan masyarakat dan lokasi belajar serta pengembangan pengetahuan. Akhirnya, memberi dampak positif bagi pembangunan daerah dan masyarakat setempat.
Bupati Banjar H Khalilurrahman menyerukan kepada Dinas TPH aktif membimbing petani florikultura. Mengawal seluruh proses serta melatih petani tentang wawasan budi daya florikultura. mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk antara maupun akhir. Ikut mempromosikan, memasarkan di dalam dan luar Kabupaten.