BerandaDisporapar KalselPemuda Kalsel Didorong Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Karakter

Pemuda Kalsel Didorong Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Karakter

Headline9.com, BANJARMASIN – Generasi muda dituntut tidak sekadar aktif di media sosial, tetapi juga mampu memilah informasi, berpikir kritis, dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar pemuda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi turut menentukan arah perubahan.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Selatan, Pebriadin Hapiz, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Pemuda, Budiono, mengatakan tantangan generasi muda semakin kompleks seiring dominasi media sosial dan perubahan lanskap digital.

Menurutnya, penguasaan teknologi harus diimbangi kemampuan menganalisis informasi, membaca perkembangan lingkungan strategis, serta membangun komunikasi yang baik. Pemuda juga perlu mengambil peran sebagai pembentuk opini dan narasi yang positif serta bertanggung jawab di ruang publik.

“Arus informasi yang semakin masif, dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, dinamika lanskap digital, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda,” ujar Budiono, Kamis (14/10/2026).

Salah satu persoalan yang perlu diwaspadai ialah fenomena post-truth, ketika informasi yang berulang kali disampaikan dapat dianggap sebagai kebenaran meskipun tidak didukung fakta. Situasi ini membuat kemampuan memeriksa sumber dan memverifikasi informasi menjadi semakin penting sebelum sesuatu dipercaya atau disebarluaskan.

BACA JUGA :  Puluhan Tim Sepak Bola Usia Dini Unjuk Gigi di Festival Forsgi Kalsel

Budiono juga menyoroti kemampuan berpikir kritis dan analitis, literasi digital, serta kecakapan berbicara di depan umum (public speaking) yang masih perlu diperkuat. Kemampuan membangun citra diri secara positif (personal branding) juga menjadi bagian dari kompetensi yang dibutuhkan pemuda.

Persoalan lainnya, generasi muda dinilai masih lebih banyak menjadi konsumen konten dibandingkan menghasilkan gagasan dan karya. Padahal, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan edukasi, kreativitas, dan informasi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.

“Penguatan kapasitas pemuda diperlukan agar mereka tidak hanya mengikuti arus informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang edukatif, kreatif, dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Di Kalimantan Selatan, potensi pengembangan kapasitas tersebut salah satunya dapat ditopang melalui organisasi kemahasiswaan, baik di dalam maupun luar kampus. Organisasi menjadi ruang bagi pemuda untuk mengasah kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan bekerja sama.

Pengalaman berorganisasi juga dapat membentuk keberanian menyampaikan gagasan sekaligus memperkuat posisi pemuda sebagai opinion leader atau pemimpin opini di tengah masyarakat.

Namun, kecakapan digital dan kemampuan intelektual saja dinilai belum cukup. Perkembangan teknologi perlu diimbangi karakter yang kuat agar kemudahan memperoleh informasi tidak mengabaikan etika dan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat.

BACA JUGA :  Kalsel Siap Adu Kemampuan di PAPERNAS XVII Solo Jateng, Target Klasemen Akhir Tiga Besar

Budiono menilai organisasi dan lembaga keagamaan memiliki peran dalam membangun karakter pemuda yang jujur, amanah, rukun, kompak, serta mampu bekerja sama. Nilai mujhid-muzhid, yang mencerminkan semangat bekerja keras dan hidup sederhana, juga dinilai relevan untuk membentuk generasi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Menurutnya, pembentukan karakter tidak bisa ditunda karena kebiasaan dan tindakan yang dibangun sejak sekarang akan memengaruhi kualitas generasi mendatang. “Kebaikan hari ini merupakan investasi masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi masa depan,” pesannya.

Ia menegaskan, kemampuan intelektual harus berjalan seiring dengan integritas, etika, dan tanggung jawab sosial. Ketiganya menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan sekaligus membuka peluang bagi pemuda untuk berkembang.

Momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, lanjutnya, perlu dimaknai lebih dari sekadar peringatan tahunan. Semangat persatuan yang diwariskan pada 1928 harus diterjemahkan melalui kontribusi nyata, mulai dari kemampuan menyikapi informasi, menghasilkan karya, hingga mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Dengan bekal tersebut, generasi muda Kalsel diharapkan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan karakter, sekaligus meningkatkan daya saing dan berkontribusi bagi kemajuan daerah.

- Advertisment -
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular