Home » Kacang Kedelai Mahal, Kurang Maksimalnya Hasil Dalam Negeri

Kacang Kedelai Mahal, Kurang Maksimalnya Hasil Dalam Negeri

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print

HEADLINE9.COM, BANJARBARU – Para pelaku industri tahu dan tempe sangat terbebani dengan kenaikan harga kacang kedelai di awal tahun 2021. 

Kenaikan harga kedelai tersebut memukul pelaku industri tahu dan tempe, sehingga mereka memutuskan untuk mengurangi ukuran tebal tahu dan tempe agar dipasaran tidak mengalami kenaikan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel Syamsir Rahman mengatakan bahwa untuk kacang kedelai hingga sekarang masih impor dan Indonesia belum bisa memproduksi kedelai untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang ditanam dari dalam negeri, itulah salah satu penyebabnya kenaikan karena harga impor.

Diakuinya, untuk Kalsel kacang kedelai memang belum bisa maksimal, karena kondisi tanahnya tidak mencukupi untuk produktivitasnya agar maksimal.

“Kedelai tumbuh di daerah yang tinggi, tidak bisa tumbuh maksimal di daerah berair, dan daerah kita banyak rawa, itulah kendalanya,” ujarnya, saat ditemui diruangannya, Kamis (8/1/2021) siang.

Dikatakannya, bahwa Kementerian Pertanian selama ini tidak memprioritaskan Kalsel sebagai sentra kedelai di Indonesia. Kalsel diprioritaskan sebagai penghasil padi dan jagung.

Selain itu, Kalsel juga telah mencoba melakukan penangkaran kedelai di kawasan Sarang Halang dan Batu Tungku Kabupaten Tanah Laut dengan hasil yang memuaskan.

Syamsir mengatakan jika ingin memaksimalkan seperti penangkaran berarti biaya produksinya harus tinggi dan jika biaya produksi tinggi nantinya akan berpengaruh dengan nilai jual pakan petani.

Ia juga berharap Indonesia dapat segera menyiapkan ketersediaan kedelai dari produksi lokal, sebagai respons atas melonjaknya harga kedelai di pasar dunia.

Baca Juga