Search
Close this search box.
  1. Home
  2. »
  3. Ekonomi dan Bisnis
  4. »
  5. Beras Hingga Gula Pasir Diprediksi Naik, Siap-Siap Cabai Rawit Makin…

Beras Hingga Gula Pasir Diprediksi Naik, Siap-Siap Cabai Rawit Makin Pedas di Pasaran

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

Headline9.com, BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional memberikan peringatan kepada provinsi, kabupaten/kota se Indonesia atas dampak cuaca panas ekstrim akhir-akhir ini yang bakal memicu kenaikan harga pangan pokok.

Pasalnya, puncak El Nino diprakirakan berakhir di Oktober atau pertengahan November 2023. Tentu, ini juga turut berdampak pada keberlangsungan tanaman pangan di Indonesia. Terlebih, saat ini hujan juga belum merata disejumlah wilayah.

Kekhawatirannya itu juga ternyata membuat tiga komoditas pokok yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia terdampak. Di antaranya komoditi beras, gula pasir dan cabai rawit.

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan, dari ratusan provinsi, kabupaten/kota di Indonesia yang dianggap mengalami disparitas harga berada di Papua salah satunya pada komoditas beras.

“Memang yang saat ini tren yang paling tinggi adalah Papua,” ujarnya dalam rakor pengendalian inflasi sekaligus mengikuti rangkaian Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2023 di Jakarta, diikuti Pemda se Indonesia secara virtual, di gedung Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, Senin (16/10).

Sementara dari komoditas gula pasir yang mengalami disparitas harga terjadi di 338 kabupaten/kota di Indonesia. “Trennya ini terus meningkat dan tercatat mengalami kenaikan,” beber Plt Kepala BPS Nasional, Amalia.

BACA JUGA :  Sesama Movement Unjuk Program Ride For Care Bersama Team Bungas

Ia turut mengingatkan, agar pemerintah daerah (pemda) turut memberikan perhatian terhadap tiga komoditas ini ditengah terjadi kemarau.

“Jadi, untuk minggu ini kami menyampaikan informasi bahwa yang menjadi perhatian adalah gula pasir, beras dan cabai rawit,” ungkapnya.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, secara virtual juga memaparkan, inflasi tahun ke tahun (y on y) minggu kedua memasuki kuartal ke IV, semester II tahun 2023 berada dikisaran 2,28%.

“Inflasinya masih terkendali. Namun, saya mengingatkan lagi agar pemerintah daerah (pemda) tak terlena dengan angka ini,” ucapnya.

Namun, bulan ke bulan (m to m) juga memberikan andil terhadap inflasi minggu kedua ini yakni terkontraksi sekitar 0,19%. “Kalau dari data secara (y on y) makanan, minuman dan tembakau turut memberikan andil 1,08%. Sementara, bula ke bulan (m to m) dikisaran 0,09%,” jelas Tito.

Berkaitan soal tiga komoditas, Tito menekankan, agar pemerintah daerah (pemda) di Indonesia turut ikut melakukan gerakan masif untuk menekan sekaligus mengentaskan inflasi tersebut. “Terlihat harga beras di Depok naik Rp1.000 per liter akibat kemarau panjang dari September 2022 inflasinya sebesar 6,25%, meski turun diangka 5,61% di bulan yang sama tahun 2023. Gula pasir juga dari perkembangan harga tahun 2022 berkisar Rp14.269 tetapi tahun 2023 naik jadi 14.769. Tentu ini harus menjadi kewaspadaan bersama,” imbaunya.

BACA JUGA :  Dewan Ekonomi: Mendukung H. Isam sebagai Pengusaha Pribumi

Menghadapi itu, Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel, Suparmi, menanggapi soal kewaspadaan terhadap tiga komoditi yang bakal mengalami kenaikan. Ia turut mengkondisikan ini dengan instansi terkait.

“Yang jelas kita akan terus menjaga pasokan dan ketersediaan pangan dan intens berkoordinasi dengan dinas yang menangani hal tersebut,” singkat Suparmi juga menjabat Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Provinsi Kalsel.

Rapat koordinasi (rakor) yang digelar Mendagri Tito Karnavian bersama Bapanas, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kemendag RI, dalam memperingati rangkaian Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2023 diketahui juga membahas komoditi seperti jagung. Hingga bagaimana cara mudah petani mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah.

Baca Juga