Search
Close this search box.
  1. Home
  2. »
  3. esai
  4. »
  5. Kata, Waktu dan Realita di Siklus Lima Tahun

Kata, Waktu dan Realita di Siklus Lima Tahun

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit
Foto net - analisadaily.com

Headline9.com – Proses pemilihan legislatif merupakan suatu perjalanan panjang di dunia politik, di mana kata-kata menjadi senjata utama untuk merebut hati pemilih. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak janji dan kata manis dibagikan di berbagai penjuru negeri.

Kata-kata tersebut, apakah diucapkan dengan tulus dari hati atau hanya bersarang di otak sebagai strategi belaka, memegang peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap calon pemimpin.

Ketika proses perjalanan menuju pencapaian atau hasil yang diinginkan, waktu menjadi kawan sekaligus lawan. Janji-janji yang diumbar, kata-kata manis yang mengalir, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang ini. Proses tersebut seolah menjadi suatu drama yang dipentaskan di panggung politik, dan kita sebagai penontonnya harus bijak menyikapinya.

Namun, seperti yang sering terjadi, kenyataan hasil dari proses ucapan dan waktu yang berjalan tak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Banyak janji yang hanya berakhir sebagai janji, kata manis yang ternyata hanya sirup dalam secangkir teh politik. Ini merupakan realitas pahit yang sering kali harus dihadapi oleh masyarakat setelah pemilihan berakhir.

BACA JUGA :  WOM Finance Buka Cabang Baru di Banjarbaru, Simak Program Unggulan di Sini

Kenyataan pahit ini khususnya terasa ketika para calon pemimpin sudah terpilih menjadi wakil rakyat. Ternyata, tak semua kata manis berakhir manis. Tak semua senyum bersahaja, bahkan terkesan dipaksakan agar tetap terlihat humanis. Kesannya, ketika kursi kekuasaan sudah dipegang, janji-janji mulai terlupakan, dan senyum-senyum manis yang dulu begitu mudah tersungging, menjadi langka.

Sungguh, ini sudah menjadi pola yang terulang sepanjang pelaksanaan pemilihan legislatif di negeri ini. Apakah hal ini akan kembali terulang di masa depan? Pertanyaan itu menggema dalam benak setiap pemilih yang telah merasakan getirnya kenyataan politik. Dengan rasa kecewa dan pelajaran dari pengalaman sebelumnya, masyarakat diharapkan dapat lebih pandai dan bijak dalam memilih pemimpin, memilih dengan hati dan pikiran yang jernih.

Tidak cukup hanya terpaku pada kata-kata manis dan senyum-senyum menggoda. Perlu adanya penelitian mendalam terkait rekam jejak dan integritas calon pemimpin. Masyarakat harus cerdas dalam memilah informasi, mengidentifikasi retorika kosong, dan tidak terjebak dalam pesona kata-kata tanpa substansi.

BACA JUGA :  Gas Murah, Untuk Warga Kelurahan Tanjung Rema Darat.

Sejatinya, pemilihan tidak hanya menjadi tanggung jawab bagi para pemilih, tetapi juga bagi calon pemimpin itu sendiri. Mereka perlu memahami bahwa setiap kata yang diucapkan, setiap janji yang diutarakan, memiliki bobot yang sangat berarti bagi masa depan negara. Kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat bukanlah sekadar formalitas, tetapi amanah yang harus dijaga dengan integritas dan kejujuran.

Dengan berbagai peristiwa pahit dan kekecewaan yang terjadi, masyarakat diharapkan memiliki semangat untuk menggugah kebijakan dan memaksa perubahan positif. Peran civil society dalam mengawasi dan menyuarakan aspirasi masyarakat menjadi sangat penting agar suara rakyat tidak hanya terdengar pada saat pemilihan, tetapi juga selama masa kepemimpinan berlangsung.

Sebagai penutup, pemilihan dengan hati yang bijak dan pikiran yang cerdas adalah kunci untuk mewujudkan perubahan positif di negeri ini. Bersama-sama, mari kita membentuk masa depan yang lebih baik, di mana kata-kata dan janji-janji politik bukan hanya sekadar angin lalu, tetapi menjadi landasan nyata bagi pembangunan bangsa yang bermartabat.

Nasrullah

Senin, 27 Desember 2023

Baca Juga