Sarmik, Teknologi Sederhana Ubah Air Hujan Laik Minum

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit
  • Warga Karya Makmur Peringati World Water Day 2019

HEADLINE9.COM, MARTAPURA – Yayasan Kaganangan Banua mengambil peran dalam World Water Day 2019 “Water For All” di Desa Karya Makmur, Kecamatan Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar. Sejak 2013 lalu, lembaga non profit itu membangun sarana-sarana Penampungan Air Hujan (PAH) di 8 desa.

Peringatan hari air sedunia diisi pertunjukan seni tari dan atraksi reog ponorogo. Sekaligus memelopori penggunaan air minum yang sehat untuk kehidupan. Kegiatan bekerja sama dengan Kecamatan Cintapuri Darussalam. Dihadiri Asisten Bidang Pemerintahan Setda Provinsi Kalsel, Dinas Lingkungan Hidup Banjar dan Shane Elson dari Solusi Berinovasi Indonesia.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banjar Boyke W Triestiyanto, peringatan Hari Air Sedunia 2019 cukup unik. Pasalnya, dilaksanakan di satu desa yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari kota Martapura. kondisinya sangat jauh dan memerlukan perhatian lebih banyak.

BACA JUGA :  Wakil Ketua Bhayangkari Kalsel Berikan Bingkisan Tali Asih Peringati 29 Tahun Pengabdian Alumni Akpol 1991

“Desa ini awalnya rawan air minum. Setelah masyarakat diberikan perhatian, mulai merasakan manfaat dari solusi penampungan air hujan sebagai sumber air minum yang sehat,” kata Boyke W Triestiyanto, di Martapura, kemarin.

Plusnya, juga digelar simulasi Sistem Penampungan Air Hujan dan Saringan Air Keramik siap minum. Semua tamu dan warga harus mencoba minum air dari saringan air tersebut. Dijelaskannya, peringatan ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya air minum.

Ditambahkan oleh Shane Elson, kesempatan pertemuan kali ini untuk memperkenalkan sarmik atau saringan air keramik kepada masyarakat desa. Ia menilai, sarana yang dibangun itu salah satu cara alternatif untuk memproses air baku menjadi air siap minum.

BACA JUGA :  Banjar Rapatkan Persiapan MTQ Nasional

Solusi menampung air hujan adalah langkah maju mengatasi kesulitan air di desa itu. Sedangkan air hujan di Kabupaten Banjar minim polusi sehingga layak untuk dikonsumsi. Dengan memakai system first flush sebagai penyaring pertama kotoran yang berada di atap rumah, maka air dari sistem ini berdasarkan uji lab, siap minum.

“Air hujan merupakan sumber daya lokal yang akan selalu tersedia secara cuma-cuma, sehingga terjamin keberlanjutannya,” pungkasnya.

Baca Juga