Home » Distan Tanbu Lakukan Pendataan Lahan Pertanian Terdampak Banjir Satui

Distan Tanbu Lakukan Pendataan Lahan Pertanian Terdampak Banjir Satui

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print

BATULICIN – Banjir yang terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu (Kab. Tanbu) Provinsi Kalimantan Selatan berdampak pada lahan pertanian di daerah wilayah Kecamatan Satui,yang diperkirakan ratusan hektar lahan pertanian terendam akibat bencana banjir.

Adapun luasan lahan pertanian di Satui sebanyak 1024 Ha. Terdiri dari sawah aktif 667 Ha dan potensi sawah 357,1 Ha.

Menyikapi hal itu, Bupati Tanbu, H.M. Zairullah Azhar langsung mengadakan rapat dengan instansi terkait, utamanya membantu para petani yang lahannya terendam banjir.

Disamping itu, Bupati juga merencanakan akan merelokasi rumah yang berada di bantaran sungai yang menjadi langganan banjir.

Tidak hanya itu, rencana lainnya mengatasi banjir yang kerap terjadi setiap tahun di wilayah Kecamatan Satui dan lainnya itu, Bupati juga akan mengusulkan ke pemerintah pusat untuk pembangunan bendungan kusan.

Sementara itu, terkait lahan pertanian pasca banjir Satui, Kepala Dinas Pertanian Tanbu, Faurazi Akbar melalui Sekretaris Distan, Lamijan, Selasa (18/05/2021) di Gunung Tinggi, Batulicin, mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan monitoring dan pendataan lahan pertanian pasca terdampak banjir Satui.

Pada monitoring tersebut, petugas pertanian melihat kondisi lahan pertanian yang terendam banjir. Apakah terendam lama atau tidak.

“Kalau terendam lama, kemungkinan gagal ada. Tapi jika terendam tidak begitu lama ada kemungkinan bisa pulih kembali,” ujarnya.

Selain mendata lahan pertanian, pihaknya juga melakukan pendataan ternak dan tanaman pangan lainnya yang terdampak banjir di wilayah Satui.

“Mudahan-mudahan hasil pendataan angkanya tidak banyak, sehingga tidak merugikan petani,” harapnya.

Dijelaskan Lamijan, monitoring dan pendataan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian ini dalam rangka memastikan angka valid dari dampak banjir tersebut.

Untuk melindungi pertanian warga dari gagal panen, maka ada program pemerintah yaitu Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

AUTP ini untuk mendapatkan ganti pembiayaan ketika terjadi gagal panen dari akibat seperti banjir, maupun serangan hama penyakit yang kerusakannya dimungkinkan 75 persen.

Program AUTP ini terus kami sosialisasikan kepada petani. Karena petani yang mengikuti AUTP bisa mendapatkan dana kembali untuk melakukan kegiatan pertanian.

Untuk klaimnya sendiri yakni Rp. 6 juta/ha yang bisa dimanfaatkan untuk pembelian bibit, pupuk, pengolahan lahan dan lainya.

“Petani hanya membayar 2 persen dari angka premi. Sisanya di subsidi pemerintah,” sebutnya.

Selain AUTP, pemerintah kabupaten juga memiliki program penggantian bibit untuk petani terdampak banjir.

Baca Juga