BerandaBanjarSolehin Pilih Bekerja Di Hari Kemerdekaan: Menabung dari Upah Serabutan

Solehin Pilih Bekerja Di Hari Kemerdekaan: Menabung dari Upah Serabutan

Headline9.com, MARTAPURA – Suara penghormatan dalam upacara pengibaran Bendera Merah Putih terdengar dari kejauhan, Senin (17/8/2026). Matahari siang memukul keras. Di saat sebagian orang larut dalam perayaan HUT ke- 81 Republik Indonesia, seorang remaja justru duduk sendiri dengan secangkir kopi hangat di tangannya. Namanya Solehin. Usianya baru 17 tahun.

Tatapannya sesekali kosong. Keringat membasahi wajahnya. Jaket lusuh yang dikenakannya menjadi pengusap keringat ketika terik semakin menyengat. Di usia ketika banyak anak seusianya mulai membicarakan kampus, organisasi, atau cita-cita setelah lulus sekolah, Solehin sedang sibuk memikirkan hal yang lebih sederhana: bagaimana tetap bekerja dan membantu keluarganya.

Sudah dua bulan dia bekerja sebagai teknisi servis pendingin udara (AC) dan kebetulan Solehin menerima pekerjaan sebagai teknisi AC dikegiatan upacara pengibaran Bendera Merah Putih. Sore hari, pekerjaannya berganti menjadi pengantar dan pengisi galon. Ketika malam datang, ia kembali bekerja memperbaiki barang-barang elektronik.

Hari-harinya berjalan seperti itu. Sekolah selesai, pekerjaan menunggu. Lelah datang belakangan. “Saya berprinsip kalau sudah lulus SMA minimal bekerja dulu. Sekarang itu pengalaman penting. Memang ada dorongan dari orang tua, kenapa tidak kuliah saja. Tapi saya harus mengerti keadaan,” kata Solehin.

Ayahnya hanya seorang buruh harian lepas. Sementara ibunya berjualan kue dari rumah. Sejak masih sekolah, Solehin sudah terbiasa menyisihkan waktu untuk membantu orang tuanya. Keinginan untuk kuliah sebenarnya tidak pernah hilang. Hanya saja, untuk saat ini, keinginan itu harus berjalan berdampingan dengan keadaan keluarga.

BACA JUGA :  Sampah Dipilah, Bukan Dibakar dan Dibuang ke Sungai

Solehin bukan lulusan sekolah kejuruan yang dibekali keterampilan teknik. Ia menamatkan pendidikan di salah satu SMA Negeri di Martapura. Namun, keterbatasan latar pendidikan itu tidak membuatnya memilih diam.

Ia mengambil pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan. Baginya, pekerjaan bukan soal gengsi. “Ngapain malu. Kalau malu, ya itu bukan saya. Kadang terpikir mau mencari pekerjaan lain, tapi pengalaman belum ada. Sekarang banyak PHK, ditambah tidak punya keahlian,” tuturnya.

Ada alasan lain mengapa ia rela bekerja dari siang hingga malam. Solehin sedang menabung. Ia ingin kuliah suatu hari nanti. “Uang kuliah bisa dicari, tapi pengalaman menurut saya penting. Ini saya lagi nabung dari gaji serabutan. Kuliah itu tidak ada kata terlambat,” katanya.

Kalimat itu keluar sederhana. Namun, di baliknya ada pilihan yang tidak mudah bagi seorang anak berusia 17 tahun. Ia memilih bekerja ketika sebagian teman seusianya mungkin sedang menikmati waktu luang.

Ia memilih mengumpulkan pengalaman ketika dirinya sendiri belum tahu pekerjaan apa yang akan menjadi jalan panjangnya kelak. Lelah tentu datang. Tetapi Solehin berusaha tidak menjadikannya alasan untuk berhenti. “Cari kerja sekarang susah. Selama ini saya berusaha sendiri. Kalau ada kesempatan diterima kerja, jalani dulu, jangan disia-siakan. Belajar, lumayan menambah pengalaman. Kalau gaji tidak sesuai, kita harus bersyukur karena masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan pekerjaan,” ujarnya.

Di tengah percakapan, suasana perayaan kemerdekaan kembali terasa. Bendera Merah Putih berkibar. Suara kegiatan dari kejauhan masih terdengar. Bagi Solehin, kemerdekaan hari itu memiliki arti yang berbeda.

BACA JUGA :  DPRD Banjar Sepakat Raperda Peternakan Hewan Dibahas Lebih Lanjut

Bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Bukan pula sekadar upacara yang berlangsung setiap 17 Agustus. Kemerdekaan, baginya, adalah ketika anak muda memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, dan menentukan masa depannya sendiri.

Karena itu, ia menitipkan satu harapan kepada Pemerintah Kabupaten Banjar. Ia ingin lapangan pekerjaan dibuka lebih luas bagi anak-anak muda.

“Kepada Pak Bupati Banjar, tolong buka lowongan usaha dan pekerjaan seluas-luasnya. Banyak pengangguran. Jangan sampai ada yang menggunakan orang dalam. Di Kabupaten Banjar tidak kehabisan anak muda yang kreatif, cerdas dan kompeten untuk memberikan kemajuan bagi daerah,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah tidak berhenti pada penyediaan informasi lowongan kerja. Menurutnya, anak muda juga membutuhkan pelatihan dan keterampilan agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Solehin mungkin belum tahu persis kapan ia bisa duduk di bangku kuliah. Ia juga belum tahu pekerjaan apa yang akan dijalaninya beberapa tahun lagi. Namun, satu hal sudah ia putuskan: ia tidak ingin menyerah hanya karena keadaan. Secangkir kopi yang mulai mendingin siang itu menjadi teman di sela perjuangannya. Sementara di kejauhan, Merah Putih masih berkibar.

Di usia 17 tahun, Solehin sedang menjalani caranya sendiri untuk memaknai kemerdekaan: bekerja hari ini, membantu keluarga, mengumpulkan pengalaman, dan perlahan menabung untuk sebuah cita-cita yang belum ia lepaskan— kuliah.

Reporter: Riswan | Editor: Nasrullah

- Advertisment -
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
headline9.com
- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular