headline9.com, BANJARBARU – Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Banjarbaru membuka ruang masukan masyarakat untuk memperkuat pelayanan rehabilitasi medik pediatri seiring meningkatnya jumlah pasien anak yang membutuhkan layanan tersebut.
Upaya itu dibahas dalam focus group discussion (FGD) yang digelar RSDI Banjarbaru bersama sejumlah perwakilan masyarakat, Jumat (21/8/2026). Forum tersebut menjadi wadah evaluasi sekaligus penjaringan gagasan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien pediatri.
Direktur RSDI Banjarbaru, dr Danny Indrawardhana mengatakan, layanan rehabilitasi medik pediatri menjadi salah satu perhatian rumah sakit karena jumlah pasien terus meningkat. Namun, pihaknya juga menyadari masih terdapat sejumlah kekurangan dalam sistem pelayanan yang berjalan.
“Karena itu kami mencoba membuka diri, khususnya untuk pelayanan tematik ini, agar pengguna layanan bisa memberikan masukan kepada kami,” katanya.
Menurut Danny, peningkatan pelayanan pasien anak tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan rumah sakit. Penanganan juga perlu dilanjutkan di rumah dengan melibatkan orang tua pasien dan Dinas Kesehatan.
“Harapannya orang tua pasien, Dinas Kesehatan dan kami bisa berkoordinasi, sehingga penanganannya tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga bisa dilakukan di rumah,” ujarnya.
Koordinasi tersebut dinilai penting agar stimulasi dan penanganan anak dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dengan begitu, pelayanan rehabilitasi medik tidak berhenti setelah pasien mendapatkan layanan di rumah sakit.
Selain penguatan pelayanan medis, RSDI Banjarbaru juga menyiapkan pengembangan layanan berbasis teknologi. Rumah sakit telah memiliki aplikasi Sipopi yang ke depan akan dikembangkan untuk mendukung berbagai kebutuhan pelayanan pasien.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah sistem antrean pasien pediatri. Danny menyebut tingginya jumlah pasien membuat pengelolaan antrean menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan.
“Rencananya khusus untuk antrean pasien yang cukup banyak ini akan kami buat di Sipopi,” jelasnya.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pasien dan orang tua dalam mengakses layanan. Sistem antrean berbasis aplikasi juga menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan efektivitas pelayanan.
Sementara itu, perwakilan masyarakat dari Yayasan Ruang Pelita Kalimantan, Retno Sulisetiyani, berharap FGD menghasilkan gagasan konkret untuk memperkuat pelayanan rehabilitasi medik pediatri di Banjarbaru.
Ia mendorong pemanfaatan teknologi agar pasien, terutama anak berkebutuhan khusus, dapat mengakses pelayanan dengan lebih mudah tanpa terkendala antrean maupun akses layanan.
“Harapannya mereka bisa mengakses itu dengan mudah, tidak terhambat,” katanya.
Retno juga mendukung pelibatan masyarakat melalui pembentukan kader yang dapat membantu memberikan stimulasi kepada anak-anak yang membutuhkan.
“Kami juga mendukung ide untuk menjangkau masyarakat menjadi kader-kader yang memberikan stimulasi pada anak-anak yang membutuhkan,” tuntasnya.






