Sampah Dipilah, Bukan Dibakar dan Dibuang ke Sungai

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Print
Reddit

HEADLINE9, MARTAPURA – Warga Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan merasa beruntung. Adalah mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat berhasil melaksanakan kegiatan pengalaman belajar lapangan.

Kelompok mahasiswa yang beranggota Ajie Setya Susanto, Erlina Rahma Yulianti, Kristy Maria Debora. Maimunah, Mida Emelia, Riadhatul Jannah, dan Sri Mufida Adhayati sukses membuat terobosan pengetahuan kepada warga.

Pengalaman Belajar Lapangan kedua telah digelar sejak 10 Januari dan berakhir 3 Februari 2019 tadi. Selama 25 hari kegiatan, diisi dengan peyuluhan pemilahan sampah dan pembangunan Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

“Pembuatan TPS ini lanjutan dari Pengalaman Belajar Lapangan pertama untuk menanggulangi permasalahan sampah Desa Awang Bangkal Timur,” terang Ajie Setya Susanto di Martapura, kemarin (5/2) siang.

BACA JUGA :  Bernhard : Wisuda Tetap Kedepankan SOP Protokol Kesehatan

Sedangkan Kristy Maria Debora menuturkan, penyuluhan  mahasiswa dibantu Puskesmas Karang Intan II sebagai pemateri pemilahan sampah organik dan anorganik. Kegiatan kemasyarakatan tersebut dipusatkan di PAUD Ceria, pihaknya mengajak ibu rumah rangga yang sedang mengantarkan atau menunggu putra putrinya.

“Biasanya, sampah rumah tangga dikelola oleh ibu-ibu. Pengetahuan ini penting kami sampaikan kepada mereka,” tambah Debora.

Suparjo, tokoh masyarakat Awang Bangkal Timur menceritakan, masih ada kebiasaan di Awang Bangkal Timur, warga lebih menyukai membakar atau membuang sampah ke sungai.  Solusi mendirikan TPS salah satu cara mengubah pelan-pelan tradisi tersebut. Tidak buang sampah sembarangan.

BACA JUGA :  Kapolda Kalsel Menjadi Narasumber Dalam Program Lintas Banua Pagi

Ia bersyukur, aparat desa dan warga aktif membantu pembangunan TPS. Kepala desa, ujarnya terlibat memberdayakan masyarakat sekitar bergotong royong dan menyediakan sarana dan prasaranya mendirikan TPS.

“Kami ajak masyarakat buang sampah ke TPS. Solusi ini mengakhiri permasalahan sampah di Awang Bangkal Timur, sama-sama bertekad menjadi desa bersih dan sehat,” ucap Pak Suparjo.

TPS baru itu sifatnya percontohan untuk RT 1, bisa saja masyarakat mengadopsi ke tempat berbeda di tiap RT. Meskipun program pembangunan TPS selesai, kegiatan penanggulangan seperti ini perlu dibina terus. Ia minta, mahasiswa PSKM FK ULM bersedia memonitoring serta mengevaluasi.

 

Baca Juga