Kalsel Bentuk Tim Keamanan Siber

Detik-detik peluncuran CSIRT oleh Plt Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan. Foto; Ptr

HEADLINE9.COM, BANJARBARU – Era digital telah membawa berbagai perubahan. Ada yang dampak positif maupun negatif, sehingga menjadi tantangan baru dalam kehidupan manusia di era digital ini.

Salah satu tantangan pada era digital hal keamanan Pemerintah di negara-negara besar. Termasuk Indonesia, telah mempunyai program khusus untuk mengawasi keamanan cyber negaranya masing-masing.

Di Indonesia masih banyak situs pemerintahan yang mudah dibobol oleh hacker. Bahkan angkanya cenderung meningkat.

Dalam setahun, ditemukan oleh Badan Siber Sandi Negara RI, ada sebanyak 300 juta serangan hacker pada setiap lembaga negara pemerintah pusat dan daerah.

“Dari laporan serangan hacker sebanyak itu, sebanyak 53 persennya adalah data data lembaga pemerintahan,” kata Direktur Penanggulangan dan Pemulihan Pemerintahan Badan Siber dan Sandi Negara, RI, Brigjen TNI Briman Purba, usai meluncurkan Kalsel Prov-CSIRT (Cyber Security Incident Response Team) di Gedung Dr. K. H. Idham Chalid Banjarbaru, Kamis (12/11).

Oleh sebab itu peluncuran Kalsel Prov-CSIRT dirasa perlu untuk pengamanan siber di tiap daerah dan kelembagaan.

Peluncuran CSIRT di Pemprov Kalsel diresmikan oleh Plt Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan dan dihadiri SKPD Lingkup Pemprov.

“Kalsel ini adalah daerah ke 10 yang sudah dibentuk CSIRT-nya. Sebelum Kalsel sudah di NTB dibentuk. Tidak lain tujuannya untuk pengamanan ruang siber di tiap daerah,” jelasnya.

Disebutkan, Briman Purba bahwa Tim CSIRT di Kalsel ini yang dibentuk adalah Sumber Daya Manusia (SDM) – nya melalui Workshop dan Pelatihan dan ada tahapan seleksinya.

“Harapannya nanti di Kalsel ini bisa membimbing dan membentuk di Kabupaten kota di daerah Kalsel, akan tim CSIRT,” ujarnya.

Pada tahun 2020 diprioritaskan 15 CSIRT berdasarkan kesiapan daerah, salah satunya Provinsi Kalimantan Selatan.

Sementara Kadis Kominfo Provinsi Kalsel, Gusti Yanuar Noor Rifai, menambahkan bahwa serangan hacker di Kalsel ini terus meningkat.

“Datanya, pada 2016, ada 9 laporan,
2017 sebanyak 21 laporan, pada
2018 ada sebanyak 18 laporan
2019 ada sebanyak 38 laporan dan pada 2020 hingga Oktober ini ada 22. Sehingga total ada 108 laporan hacker,” jelasnya.

Disebutkan Gusti Yanuar Noor Rifai, paling banyak yang disentuh hacker ini adalah pelayanan kepada masyarakat.

“Yang diserang berkaitan dengan pelayanan, misal yang paling banyak di bakeuda, dipnaker, BKD Barabai juga sempat dua kali diserang,” papar Gusti Yanuar Noor Rifai.

Para Hacker ini yakni berasal kebanyakan dari Cina, rusia, dan indonesia sendiri 9

“Kita akan bentuk CSIRT ini otomatis kita siaga 24 jam. Kedepannya kita akan bentuk tingkat kabupaten kota. Sementara ini di Pemprov Kalsel teknisnya yang paling menguasi sekitar 4 orang, dan ini akan dikembangkan,” pungkasnya. (HL9/Ptr)